Banyak perusahaan yang sudah menggunakan media informasi sebagai pelengkap
kebutuhan dalam melakukan proses bisnis. Informasi ini kemudian menjadi salah
satu aset milik perusahaan. Maka perlindungan akan aset informasi sudah mulai diperlukan.
Pertama, mengidentifikasi ancaman yang memungkinkan suatu aset informasi
menjadi rentan dan memberikan resiko terhadap perusahaan. Ancaman tersebut dapat
dihasilkan dari bencana alam maupun faktor manusia.
Ancaman oleh manusia dapat disengaja ataupun tidak disengaja. Ancaman yang
disengaja antaran lain, sabotase, data
modifying, dan pencurian data. Sedangkan ancaman yang tidak disengaja diantarannya
adalah ketidaksengajaan oleh user yang dapat mengaktifkan bug dalam aset informasi tersebut. Oleh karena itu, perlu membatasi
orang-orang dalam mengakses aset informasi tersebut, instalasi software proteksi seperti antivirus, merekam setiap jejak orang
yang mengkases aset informasi tersebut serta menyediakan tempat untuk back-up data.
Bencana alam yang dapat terjadi berupa banjir, power outrage, kebakaran, mati lampu, petir, gempa bumi, dan lain
sebagainya. Pertama yang perlu dilihat adalah letak geografis lokasi aset
informasi milik perusahaan. Kemudian mengidentifikasi dengan membuat daftar
bencana alam yang berpeluang paling tinggi di daerah tersebut. Setelah itu, menentukan
skala prioritas aset informasi dengan
dampak yang akan diberikan kepada perusahaan.
Setelah mengidentifikasi ancaman selanjutnya membentuk set perlindungan
terhadap aset informasi tersebut. Set tersebut harus memenuhi 3 kriteria
penting yang menentukan proses keamanan terhadap aset informasi. Kriteria tersebut adalah proses keamanan yang
simpel, logika yang mudah dipahami dan proses keamanan yang mengikuti standar.
Proses keamanan harus mudah dijalankan agar user yang bertanggungjawab atas keamanan tidak mengalami kesulitan.
Dengan adannya kesulitan dalam proses keamanan maka kinerja user akan menurun dan dapat berdampak
kepada menurunya produktifitas perusahaan.
Logika proses keamanan harus disesuaikan dengan critical level pada dampak kerugian yang akan diterima oleh
perusahaan. Semakin rumit logika proses keamanan untuk aset informasi maka aset
tersebut memiliki dampak yang critical bagi perusahaan.
Proses keamanan harus mengikuti standar untuk memudahkan proses evaluasi. Standar
ini diperlukan agar tim audit dapat memeriksa apakah keseluruhan aset informasi
yang dimiliki perusahaan sudah mengikuti standar international dan nasional.
Setelah itu, memperhatikan dan mengidentifikasi ancaman untuk melindungi aset
informasi perusahaan. Selanjutnya perlu diperhatikan teknik-tehnik dalam pemberian
control terhadap perlindungan aset
informasi dalam perusahaan. Control yang
diberikan diantaranya berupa pembuatan restricted
zone, back-up media, logical security control, dan controlling access.
Restricted zone ini ditujukan untuk pengamanan infomasi aset yang
bersifat sensitif dan yang memerlukan pengamanan dengan kriteria terbaik bagi
perusahaan. Untuk memasuki restricted
zone diperlukan controlling access
berupa Technical Security Standart for
Information (TSSIT).
Back-up media adalah pra sarana untuk penyimpanan data yang
memiliki tujuan untuk mencegah atau menghidari kemungkinan terburuk dari human error atau natural disaster dengan membuat cadangan data di tempat-tempat yang
berbeda. Jika terjadi kejadian yang tidak diinginkan maka perusahaan atau
organisasi memiliki data recovery.
Monitoring access yang melibatkan security guards, electronic
intrusion detection system, dan electronic
access control system yang memiliki kemampuan merekam gerak gerik kegiatan
dalam restricted zone.
Controlling access memerlukan authorizing
access untuk keamanan aset informasi. Authorizing
access diberikan kepada orang-orang dipercaya dalam pengelolaan informasi yang
sensitif. Authorizing access memudahkan
pemantauan orang-orang tersebut pada setiap kegiatan yang terjadi dalam restricted zone. Karena tidak semua
orang dapat masuk ke dalam restricted
zone.
Logical security control adalah satu set logic control terhadap suatu aset informasion. Tujuan utamannya
yaitu mengontrol computer hardware
dan software dari ancaman kejadian
yang tidak diinginkan. Tujuan lainnya yaitu:
- Mengidentifikasi user atau komputer yang memilik authorize access kepada network, data ataupun resources.
- Membatasi akses kepada specific data atau resources.
- Menciptakan audit trails system dan user activity.
- Mengambil langkah defensif dari gangguan
Langkah defensif dapat berupa access
control software, antivirus software, smart cards, passwords, encryptions, serta audit trails.
- Access control software: Pemberian batas kepada user dalam mengaksess resources pada computer system.
- Antivirus software: Pemberian antivirus kepada software sensitive tujuannya tidak lain untuk mencegah virus masuk ke dalam sensitif information.
- Passwords: pemberian password tidak lain untuk memastikan bahwa orang tersbut adalah orang yang memiliki wewenang dalam mengakses software tersebut.
- Smart cards: kartu yang berisikan keoriginalitas user tersebut. Apakah user tersebut memiliki autoritas dalam kegunaanya atau tidak.
- Encryption: adalah teknik dimana plaintext diacak sedemikian rupa yang mengakibatkan plaintext tersebut susah dikenali. Tujuannnya untuk melindungi data.
- Audit Trails: adalah visible trail dimana fakta-fakta dapat diungkap dan dapat dianalisis. Tujuannya yaitu untuk menjejak setiap kegiatan.
Jika suatu set keamanan sudah terbentuk maka proses selanjutnya adalah
pembentukan perancangan mitigasi. Perancagan mitigasi ditujukan untuk user yang
memiliki wewenang dan akses kepada aset informasi.
Sumber: Institute, SANS. "SANS Institute
InfoSec Reading Room." Protection
Information Asets 1.3 (2002):
15. Protection Information Asets.
Sans Institute. Web. 4 Feb. 2015.
<https://www.sans.org/reading-room/whitepapers/basics/protection-information-asets-594>.
No comments:
Post a Comment